Ads 468x60px

Jumat, 29 Maret 2013

Hear Me Now

Saya nggak ngerti apa sebenarnya yang ada dalam hidup saya,...
hari-hari saya lewati dengan banyak persoalan....
yaahh..... semuanya kadang membuat saya hanyut dalam ketakutan,
pikiran saya hanya ingin tetap yg terbaik...

dalam diri tersimpan sebuah rasa yg tak bisa saya ungkapkan...
ntah rasa apa itu...
kadang membuat saya begitu Kuat, tapi juga Lemah...
rasa yg ingin sekali pergi terbang jauh....
terbang bebas ke angkasa....
menikmati indahnya samudera....
hanya satu kata tanyaku : Apa Yg Sebenarnya ada dalam diri setiap manusia....
mengapa seolah manusia Lupa akan segalanya....
Mengapa manusia berpikir SEOLAH Dunia Miliknya seorang....
Dia bebas melakukan apa yg ia inginkan,...
Merusak apa yg dia tidak suka, mengambil apa yg dia mau....

Kamis, 2 Mei 13 kali ini tentang perasaan...

Selasa, 08 Januari 2013

Cara Membuat Fanspage Melayang di samping blog,



cara membuat fanspage melayang di samping blog, pada kesempatan kali ini cara badut akan membahas tentang cara membuat fans page melaynag di samping blog.

sebelum membuat ini anda harus sudah memiliki fanspage di facebook anda.

membuat fanspage blog akan sangat membantu dalam meningkatkan rating blog kita, semakin banyak yang menyukai fanspage blog kita maka akan semakin besar kesempatan blog kita untuk di kunjungi!

ada banyak tampilan fanspage yang bisa di buat di blog, ada yang nempel di blog, ada yang muncul saat blog di buka(pop up), ada yang melayang di samping blog, seperti yang CB gunakan,
ada beberapa alasan kenapa CB menggunakan ini, salah satunya tampilammya yang dinamis tidak membuat tampilan blog sobat jadi kotor! salah duanya, eh maksudnya yang kedua, heheeh,, yang kedua letaknya yang di posisikan di dekat scrool bar, memungkinkan para pengunjung melihat fanspage ini pada saat dia membaca artikel sobat!

dan fanspage ini tidak menggangku tampilan blog sobat.

ok langsung aja ne ke cara membuatnya:
1.masuk ke pengaturan Template sobat
2.edit HTML (centang Expand Template Widget)
3.cari kode </head> tekan F3 atau Ctrl + f  untuk mencari
4.letakkan kode berikut ini tepat di atas </head>

<script src='https://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.6.1/jquery.min.js' type='text/javascript'/>


5.simpan template anda
6.masuk ke menu tata letak sobat, tambahkan gadget(terserah dimana saja)
7.pilih Html/JavaScript
8.masukkan kode berikut ini 

<script type="text/javascript">
//<!--
$(document).ready(function() {$(".w2bslikebox").hover(function() {$(this).stop().animate({right: "0"}, "medium");}, function() {$(this).stop().animate({right: "-250"}, "medium");}, 500);});
//-->
</script>
<style type="text/css">
.w2bslikebox{background: url("https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5YrSZ-6PwvD2b-b5TOAWOPcRxhlydX3-AMlRtH4rMuYXSOukJGKi-cwsRx44P-5CA2by3O6qY81XaBkzHqg2TUAtd2rMd79qpmTd3sRc_DX23aVtPNME5GhI09gCYESsDhoVbKStZzLWm/s150/w2b_facebookbadge.pn") no-repeat scroll left center transparent !important;display: block;float: right;height: 270px;padding: 0 5px 0 46px;width: 245px;z-index: 99999;position:fixed;right:-250px;top:20%;}
.w2bslikebox div{border:none;position:relative;display:block;}
.w2bslikebox span{bottom: 12px;font: 8px "lucida grande",tahoma,verdana,arial,sans-serif;position: absolute;right: 6px;text-align: right;z-index: 99999;}
.w2bslikebox span a{color: #808080;text-decoration:none;}
.w2bslikebox span a:hover{text-decoration:underline;}
</style><div class="w2bslikebox" style=""><div>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/likebox.php?href=http%3A%2F%2Ffacebook.com%2Fbadutzcocc&amp;width=245&amp;colorscheme=light&amp;show_faces=true&amp; connections=9&amp;stream=false&amp;header=false&amp;height=270" scrolling="no" frameborder="0" scrolling="no" style="border: medium none; overflow: hidden; height: 270px; width: 245px;background:#fff;"></iframe><span style="color:#fff;">Widget by: <a style="color:#fff; font-weight:bold" href="http://www.carabadut.blogspot.com">amat</a></span></div></div>


NB: ganti tulisan badutzcocc dengan id fans page yang anda miliki contoh fans page cara badut facebook.com/badutzcocc  

9.simpan gatgetnya
10.lihat hasilnya di blog anda



Senin, 07 Januari 2013

AGNES MONICA














Minggu, 09 Desember 2012

DAYAK KENYAH


Siapa “Dayak Kenyah?” 
Bagi kebanyak orang khususnya yang tinggal di Kalimantan Timur, kata atau Suku Dayak mungkin sudah cukup dikenal.  Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa suku Dayak terdiri dari lebih 18 kelompok etnis, yang bahkan memiliki bahasa yang sangat berbeda. Salah satu dari 18 kelompok  etnis tersebut adalah Dayak Kenyah

Berbeda halnya dengan kata ‘dayak’, arti dan asal-usul kata “kenyah” sampai sekarang belum diketahui dengan pasti maknanya, sejak kapan digunakan dan berasal dari kata dasar apa. Istilah ‘kenyah’ adalah sebuah istilah yang sulit dijelaskan karena kurangnya referensi tentang kata tersebut.  Bahkan dalam bahasa Kenyah sekalipun kata ‘kenyah’ tidak ditemukan atau tidak memiliki makna tertentu. Beberapa narasumber yang diwawancarai juga belum dapat memberikan penjelasan mengenai asal-usul dan makna kata ‘kenyah’.  Okushima (2008) hanya menjelaskan bahwa kata “kenyah” mungkin berasal dari kata “ken’eah”, yang intinya adalah ‘Kenyah’ not only for the so-called Kenyah, but also for Kayanized subgroups, meaning ‘not pure Kayanic,’ or ‘not original Ga’ay yang berarti bahwa Kenyah tidak hanya dipakai untuk nama suku Kenyah saja, tetapi juga untuk menamakan sub-Kayan lainnya yang “tidak murni Kayan atau bukan berasal dari Ga’ay”.

Karena belum ada makna harafiah dari kata ‘kenyah’, beberapa peneliti mencoba mendeskripsikan kata ‘kenyah’ dari cara hidup dan ciri-ciri umum kelompok suku ini.  Seorang peneliti Jepang, Inoue (2000) dan Italia Soriente (2003) mendeskripsikan ‘kenyah’ sebagai sekelompok orang yang hidup di pedalaman Borneo atau Apau Kayan dan Sarawak. Kenyah mencakup berbagai sub-suku yang secara etnik, kultural, maupun asal-muasal berbeda.  Kata ‘Kenyah’ tidak dapat dijelaskan dengan satu rumusan saja, harus meliputi berbagai ciri yang ditemukan pada kelompok tersebut.  Selanjutnya Cleary dan Eaton (1993) mendeskripsikan suku Kenyah berpenampilan energik, bergerak cepat, tubuhnya berotot tapi ramping, kulit bersih dan bebas dari penyakit kulit. Sedangkan ‘Apau Kayan’ adalah dataran tinggi di hulu S. Kayan yang meliputi areal seluas 10.000 km2.  Saat ini Apau Kayan meliputi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, S. Boh, Bahau Hulu,  Mentarang Hulu dan sebagian Sarawak (Malaysia).

Dari aspek linguistik atau bahasa yang digunakan, suku Dayak dibagi ke dalam 5 grup, salah satunya adalah ‘Kayan-Kenyah’, termasuk suku ‘Kenyah’.  Suku Bahau, Modang, Aoheng juga termasuk dalam klasifikasi tersebut.  Dari aspek linguistik tersebut terlihat bahwa ‘kenyah’ termasuk kedalam grup ‘Apau Kayan’ atau ‘Kayan-Kenyah’.  Klasifikasi berdasarkan linguistik yang dikemukakan oleh Devung (2001) adalah Barito Timur, Barito Mahakam, Apo Duat (Apau Da’a) dan Rejang-Baram.

Pembagian Sub-sub Suku Kenyah dan Arti Nama Suku/lepo’
Dari uraian terdahulu bahwa rumah panjang atau uma’ yang ada di kampung Apau Da’a berjumlah 40 buah, dimana tiap-tiap rumah panjang diisi oleh kelompok yang memiliki dialek/bahasa yang sama.  Tidak diketahui dengan jelas bagaimana nama ”kenyah” muncul dari sekitar 40 uma’ yang ada.  Namun diperkirakan bahwa uma’-uma’ yang memiliki dialek yang sama, merekalah yang masuk dalam sub suku Kenyah.

Bagaimana sejarah timbulnya nama-nama sub-suku tersebut?
Dari beberapa narasumber yang diwawancarai maupun dokumen tertulis, nama-nama sub-suku tersebut dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) versi yaitu:

(1)   Nama berdasarkan letak atau kondisi rumah panjang (umaq) yang ditinggali masing-masing kelompok, misalnya Uma’ Lasan karena halaman rumah mereka lasan atau tidak berumput, atau Uma’ Alim karena di depan rumah ada pohon alim (kwini), dan seterusnya yang akan dijelaskan lebih detail di bagian bawah.

(2)   Nama berdasarkan jenis tumbuhan, akar atau liana yang menjadi ciri khas pada setiap bekas pondok (belaka lepau) masing-masing kelompok pada saat mereka menjelajahi hutan untuk berburu dan meramu hasil hutan sebagai pertanda ”otoritas suatu wilayah” agar tidak menimbulkan saling curiga yang dapat berakibat terjadinya perang saudara. Sebagai contoh, Lepo’ Tukung, biasanya mengikat  aka betukung pada bekas pondok yang ditinggal.  Jika ada kelompok lain melihat tanda ini, mereka mengerti bahwa bekas pondok (belaka lepau) ini milik Lepo’ Tukung, demikian juga Lepo’ Bakung, dst.

(3)   Nama berdasarkan kebiasaan dan kondisi masing-masing kelompok seperti misalnya Lepo’ Ke, kelompok ini biasanya telaten meke atau mengikis sampai sampai halus sesuatu yang dibuat, misalnya kerajinan rotan atau perkakas kayu.  Demikian juga Lepo’ Kuda’, dalam bahasa Kenyah dan bahasa Dayak lainnya seperti Lundayeh. kudaq berarti ’berapa’.  Konon diantara sub-sub suku Kenyah, anggota kelompok ini relatif kecil sehingga sub-suku lain sering menanyakan ’berapa’ atau ’kuda’jumlah anggota kelompok ini.

(4)   Nama berdasarkan tempat spesifik dimana kelompok tersebut pernah membuat rumah untuk menetap sementara waktu, misalnya nama Lepo’ Ma’ut merupakan nama satu dataran tinggi (apau) yang bernama Apau Ma’ut, dsb.

Secara harafiah, arti kata ‘Lepo’’  (sebagian peneliti menulisnya leppo’) adalah ‘kampung’ atau ‘desa’ sedangkan ‘uma’ adalah ‘rumah panjang’.  Namun dalam pemakaiannya untuk menyebutkan nama salah satu sub-suku Kenyah seperti Lepo’ Tau atau Uma’ Baka, pengertian kedua istilah tersebut sama saja, tidak ada perbedaannya, keduanya menunjukkan nama salah satu sub-suku Kenyah. Kata uma’ dipakai pada waktu kelompok tersebut masih bergabung dengan sub-suku lainnya di kampung Apau Da’a, sedangkan kata lepo’ mulai dipakai setelah masing-masing uma’ berdiri sendiri membentuk satu desa atau lepo’.

Namun dari asal-usulnya, Soriente (2003) menyatakan bahwa kata ‘lepo’dipakai untuk satu kelompok etnis yang keberadaannya dimulai dari kesatuan atau gabungan beberapa ‘uma’ atau rumah panjang.  Sedangkan etnis yang namanya memakai nama ‘uma’, keberadaannya dimulai dari hanya satu rumah panjang (uma’) saja.  Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa sub-etnis yang namanya dimulai dengan kata ‘lepo’memiliki populasi lebih besar dibandingkan sub-etnis yang memakai kata ‘uma’. Berdasarkan kebiasaan juga, dua sub-suku tidak memakai kata Lepo’atau Uma’ di depan nama sub-suku yaitu Bakung dan Badeng.  Keduanya dapat saja memakai salah satu kata tersebut di atas namun tidak digunakan.
Arti nama masing-masing sub-suku berasal dari keterangan lisan beberapa narasumber, dan mungkin saja ada pendapat lain dari arti nama sub-suku tersebut sehingga apa tertulis di sini tidak bersifat mutlak.  Beberapa contoh arti nama sub-suku tersebut antara lain.

(1)         Bakung.  Nama ‘bakung’ berasal dari 3 versi.  Yang pertama, berasal dari nama sebuah rawa (bawang) di hulu Sungai Iwan.  Rawa Bakung ini merupakan tempat yang pertama ditinggali suku Bakung setelah memisahkan diri dengan kelompok atau sub-sub suku lainnya di Apau Daha. Yang kedua, berasal dari nama akar ’bakung’ yang biasa diikatkan pada bekas pondok (belaka lepau) kelompok ini, dan yang ketiga dan  kemungkinan besar merupakan asal nama bakung adalah nama Sungai (alo) Bakung di hulu S. Bahau dimana kelompok ini pernah menetap setelah pindah dari S. Belaga-S. Baram (Malaysia) dan kemudian ke Sungai Bakung.

(2)         Badeng.  Sama seperti “Bakung” yang tidak menggunakan katalepo’ atau uma’ di depan nama sub-sukunya.  Belum ada informasi yang dapat dipercaya mengenai asal-usul nama Badeng.

(3)         Lepo’ Kulit.  Pada waktu tinggal dalam satu kelompok besar dengan suku lainnya di Apau Da’a (Daha) di hulu Sungai Iwan, rumah panjang kelompok ini terbuat dari kulit kayu, sehingga dinamakan Lepo’ Kulit.

(4)         Lepo’ Maut.  Secara harafiah, dalam bahasa Kenyah Lepo’ Ma’ut adalah lawan kata dari Uma’ Lasan. Di halaman rumah kelompok ini ada lahan tertentu yang memang dibiarkan ditumbuhi semak yang merupakan sebuah pertanda khusus.  Versi lainnya menurut Lahang dan Njau (1999), nama Lepo’ Ma’ut berasal dari nama sebuh dataran tinggi dimana kelompok ini pernah menetap sementara waktu yaitu ’Apau Ma’ut’.

(5)         Lepo’ Tepu.  Kelompok ini terkenal dengan kebiasaanya menanam tebu di sekitar rumahnya sehingga dinamakan Lepo’ Tepu atau rumah yang memiliki banyak tebu.

(6)         Lepo’ Jalan. Letak rumah kelompok ini berada di muara Sungai Jalan ketika masih menetap di Apau Da’a.  Kata ‘jalan’ dapat juga berasal dari nama sejenis hewan kecil bernama ‘jalan’ .

(7)         Lepo’ Tau.  Menurut seorang tokoh Lepo’ Tau, kata ‘tau’ berasalberaka’ tau, yaitu sebuah tugu (belawing) kayu setinggi sekitar 2 m yang dibelah empat pada ujungnya untuk meletakkan telur ayam (padau) kemudian diserut (serbu) yang dipakai untuk melihat jalannya matahari (tau) untuk menentukan musim yang baik untuk mulai menugal (lihat juga Liman Lawai, 1999).

(8)         Lepo’ Tukung.  Setiap bekas pondok (belaka lepau) kelompok ini selalu diberi tanda dengan mengikatkan sejenis akar yang disebut aka betukung, yang kemudian disebut tukung.  Jika orang menemukan bekas pondok di dalam hutan dan pada bekas pondok tersebut terdapat aka betukung, berarti ini bekas pondok ‘Lepo’ Tukung’ dan daerah itu berada di bawah otoritas Lepo’ Tukung.

(9)         Lepo’ Nyibun.  ‘Nyibun’ dalam bahasa Kenyah berarti ‘jambu biji’.  Sumber yang dapat dipercaya mengenai asal-usul nama lepo’ ini belum ada, namun menyimak pemberian nama pada kelompok lainnya, ada kemungkinan di sekitar rumah panjang (uma’) kelompok ini terdapat banyak pohon jambu biji.

(10)     Uma’ Baka.  Tidak diketahui dengan pasti asal kata “baka”, namun ada kemungkinan berasal dari kata “belaka” yaitu bahasa Kenyah yang berarti “kerangka rumah” atau rumah yang sudah tidak dipakai sehingga tinggal kerangkanya saja yang tersisa.

(11)     Uma’ Lung.  Pengertian nama Uma’ Lung juga ada dua versi seperti nama sub-suku Kenyah lainnya.  Pengertian kata ‘lung’ dalam bahasa Kenyah ada dua yaitu: ‘muara sungai’ dan yang kedua berasal dari sejenis keladi hutan yang bernama ‘lung’.  Keladi hutan ini biasanya dipakai oleh suku Kenyah untuk menolak bala atau mengusir roh jahat.  Dengan demikian Uma’ Lung dapat berarti bahwa rumah kelompok ini berada di muara sebuah sungai ketika berada di hulu Sungai Iwan atau hulu Sungai Bahau.  Versi lainnya mengatakan bahwa ‘belaka lepau’ kelompok ini selalu ditandai dengan adanya sejenis keladi ‘lung’ yang diikat pada bekas pondok ketika bertualang (san) di dalam hutan.


Rabu, 14 November 2012

GRAND CHASE

LIRE & ARME

SIEGART & JIN

MONSTER BOS 

ELESIS

CHAR GRAND CHASE

ELESIS, ARME & LIRE

DIO & LEY

DIO & LEY

LUPUS

ZERO

LEY


LASS & LUPUS

RYAN

LUPUS, SIEGART, DIO, & RONAN

ARME

SIEGART

RYAN

ELESIS

LASS

AMY

JIN

MARI

RONAN


Sabtu, 27 Agustus 2011

My Story



Sabtu, 20 Agustus 2011

Tempat Terindah Di Indonesia


Pulau Weh, Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam


Annai Velankanni, Medan, Sumatera Utara


Danau Ranu Kumbolo, Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru, Jawa Tengah


Savana Ranu Kumbolo, Taman Nasional Bromo - Tengger Semeru, Jawa Tengah MY FAVOURITE


Kereta Pakuan Jurusan Depok-Jakarta


Kreung Tenom, Aceh Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam


Kawah Ijen, Jawa Timur, Indonesia


Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah


Gunung Bromo, Jawa, Indonesia



Tornado di Pantai Senggigi, Lombok, Indonesia


Uluwatu, Bali, Indonesia


Rumah Batak Toba, Sumatera Utara


Pantai Kuta, Lombok, Indonesia


Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara


Daerah Kuningan, Jakarta


Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta


Gunung Sumbing antara Wonosobo - Pacitan, Jawa, Indonesia


Pulau Samosir, Sumatera Utara


Masjid Raya Medan, Sumatera Utara


Pantai Parai namanya; berada di kota sungailiat bangka

Pantai Parai, Kota Sungai Liat, Pulau Bangka